Di dalam beberapa kitab thibb atau pengobatan yang dikarang para dokter Muslim terdahulu seperti Ibnu Sina, Al-Imam Ar-Razy, Al-Imam Adz-Dzahaby, Ibnu Qayyim, Abdu-Lathif Al-Baghdady, Az-Zahrawy, Ibnu Abi Ushaibi'ah, dll senantiasa dijelaskan berbagai macam penyakit beserta herbal yang digunakan untuk penyembuhannya, atau bahasan tentang jenis-jenis tanaman untuk pengobatan penyakit tertentu.

Dalam penjelasan tentang tanaman-tanaman yang berkhasiat obat ini senantiasa disertai penjelasan tentang karakter tanaman, manfaat dan tak ketinggalan levelnya yang disebut ad-darajah. Level tanaman-tanaman herbal ini dibagi menjadi 4 tingkatan, yaitu: level satu, level dua, lever tiga dan level empat.

Pertanyaannya, apa sebenarnya makna di balik penyebutan level ini yang empat tingkatan ini? Apa pula implikasinya kalau memang ada?

Sebab hampir tidak ada penjelasan yang memadai, memuaskan dan mengenyahkan dahaga ilmu dari uraian yang pernah disampaikan para dokter Muslim tersebut di berbagai kitab yang ada atau kitab-kitab hasil terjemahan. Maka silahkan simak uraian berikut tentang macam-macam darajah tanaman yang berkhasiat obat dalam dunia Islamic medicine.

Ad-Darajatul-Ula

Maksudnya level pertama atau derajat pertama atau tingkatan pertama, yaitu jenis obat yang tidak memiliki efek apa pun yang dirasakan, indikasi atau kontraindikasi. Obat yang termasuk jenis ini semacam obat yang mengandung vitamin tertentu atau kandungan farmakologis untuk manfaat tertentu atau dengan efektifitasnya yang rendah. Ar-Razy memberi contoh semacam tanaman as-sana atau as-sana', yang dalam bahasa latin disebut senna. Sifatnya panas kering. Contoh lain adalah pohon tebu yang sifatnya panas.

Ad-Darajatuts-Tsaniyah

Level kedua atau derajat kedua atau tingkatan kedua, yaitu obat yang memberi efek manfaat dan indikasi dan sama sekali tidak ada efek sampingnya. Contohnya adalah al-hulbah yang direbus. Tapi jika dikeringkan turun ke level pertama.

Ad-Darajatuts-Tsalitsah

Level ketiga atau derajat ketiga atau tingkatan ketiga, yaitu obat yang memiliki efek samping atau efek negatif tapi tidak terlalu dominan. Contohnya adalah al-kam'ah. Manfaatnya yang paling dominan untuk semua keluhan dan sakit mata. Efek sampignya sulit dicerna jika dikonsumsi, menghambat sirkulasi darah, sakit perut dan efek konstipasi. Sifatnya dingin lembab.

Ad-Darajatur-Rabi'ah

Level keempat atau derajat keempat atau tingkatan keempat. Obat yang memiliki efek negatif dan efek samping secara nyata atau jenis obat tapi juga mengandung racun. Contohnya adalah asy-syubrum yang bersifat panas panas.

Begitulah penjelasan mereka tentang karakter dari obat-obatan sebagaimana yang dijelaskan para dokter Muslim di berbagai kitab karangan mereka. Hal ini perlu dijelaskan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman dalam memahami kitab-kitab mereka. Sebab penguasaan bahasa Arab tidak menjamin penerjemahnya mengerti masalah derajat atau level-level obat-obatan sebagaimana yang mereka inginkan.

Di samping itu, pembagian level obat ini dapat dianggap sebagai kode tentang karakter obat yang dapat dikonsumsi atau yang harus dihindari, atau untuk menetapkan jenis obat apa untuk penyakit tertentu. Sehingga seorang pengobat tidak keliru dalam menetapkan jenis obat bagi pasiennya, sesuai penyakit dan keluhannya.

Semoga manfaat. Wa Allau a'lam bish-shawab.

KATHUR SUHARDI

CEO Assabil Holy Holistic Jakarta